Banner

Wednesday, July 4, 2012

Dieng, Tempat Tinggal Para Dewa

Dieng, Langsung yang terlintas didalam pikiran kita adalah Dataran Tinggi Dieng yang sudah sangat terkenal hingga mancanegara. Dieng adalah kawasan dataran tinggi yang berada di Jawa Tengah, yang masuk wilayah dalam Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letak Dataran Tinggi Dieng berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Nama Dieng berasal dari bahasa Sansekerta yaitu "di" yang berarti tempat, dan "hyang" yang berarti dewa pencipta. Secara keseluruhan Dieng dapat diartikan sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Sementara para penduduk sekitar sering mengartikan bahwa Dieng berasal dari kata "edi" yang berarti cantik dalam bahasa Jawa, dan "aeng" yang berarti aneh. Dengan kata lain Dieng adalah sebuah tempat yang cantik namun memiliki banyak keanehan.

Sesungguhnya Dieng adalah wilayah vulkanik aktif dan dapat dikatakan sebagai gunung api raksasa. Datarannya terbentuk dari kawah gunung berapi yang telah mati. Bentuk kawah ini terlihat jelas dari dataran yang dikelilingi oleh gugusan pegunungan disekitarnya. Namun meskipun gunung api ini telah berabad-abad mati, beberapa kawah vulkanik masih aktif hingga sekarang. Di antaranya adalah Kawah Sikidang, yang selalu berpindah-pindah tempat dan meloncat-loncat seperti "kidang" atau kijang.

Keunikan proses terbentuknya menghasilkan bentang alam yang eksotik dan tidak ada duanya. Telaga Warna yang memantulkan warna hijau, biru dan ungu serta pesona keindahan matahari terbit dari puncak Gunung Sikunir adalah tempat-tempat yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.


Sebagai tanah yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya para dewa, aura mistis dan berbagai mitos masih dipercaya oleh warga asli Dieng. Salah satunya adalah fenomena anak gimbal. Entah mengapa banyak anak di wilayah ini tiba-tiba berubah menjadi berambut gimbal. Mereka yang awalnya lahir dalam keadaan normal seperti anak kebanyakan, mendadak terserang demam tinggi dan tumbuh rambut gimbal di kepalanya. Sebagian besar warga percaya bahwa anak gimbal adalah keturunan pepunden atau leluhur pendiri Dieng. Mereka ini kemudian harus dipotong rambut gimbalnya melalui sebuah prosesi ruwatan, setelah permintaan si anak dipenuhi oleh orangtuanya. Bila orangtua gagal memenuhinya, maka rambut gimbal akan tumbuh lagi meski telah dipotong berkali-kali.



Pada Tanggal 30 Juni - 1 Juli 2012 kemarin ada sebuah event untuk ketiga kalinya Dieng Culture Festival digelar secara resmi. Upacara ruwatan ritual rambut gembel menjadi acara puncaknya. tradisi kebudayaan ruwatan anak gimbal di Dieng yang dilaksanakan satu tahun sekali. Pembukaan acara ini dengan pembagian 4000 minuman Purwaceng. Selayaknya sebuah paket wisata pasti susunan acara dibuat semenarik mungkin. Maka setelah sederetan acara seperti jalan sehat, wayangan dan pesta kembang api, dihadirkan sebagai klimaksnya adalah ruwatan anak gimbal. Ritual ruwatan rambut gembel adalah peninggalan leluhur yang hingga sekarang masih menjadi tradisi turun-temurun di Dataran Tinggi Dieng. Tidak heran banyak sekali wisatawan yang melancong ke Dieng untuk mendokumentasikan acara ini dan tidak sedikit juga beberapa wisatawan mancanegara juga ikut memeriahkan suasana. Tak bisa dipungkiri, digelarnya Dieng Culture Festival berimbas pada daya tarik pariwisata lokal. Hampir sekitar 15.000 wisatawan datang ke Dieng, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.


Menurut masyarakat setempat, setiap anak yang diruwat harus dipenuhi permintaannya. Sebab itu, ruwat harus dilaksanakan ketika anak-anak itu mengajukan suatu permintaan langsung kepada orang tuanya. Tanpa ada permintaan dari si anak gembelnya, maka sekali pun sudah dicukur, rambut gembel akan tumbuh kembali. Orang tua juga wajib memenuhi keinginan anak atau rambut terus tumbuh walau sudah dicukur. Rambut gembel juga tumbuh secara alami, hanya pada anak-anak. Meski tidak terbukti secara medis, tetapi biasanya rambut ini muncul disertai demam tinggi, mengigau dalam tidur. Gejala ini baru berhenti dengan sendirinya tatkala rambut sang anak kusut dan menyatu. Disebut gembel karena jenis rambut ini jadi menyerupai rambut gelandangan yang tidak dicuci.

Daftar Tempat wisata yang ada di kawasan Dieng.
Telaga
1 . Telaga Merdada
Telaga Merdada dahulumerupakan kepundan (kawah gunung berapi yang kemudian terisi air hujan) air dari telaga itu dapat dipergunakan untuk kebutuhan penduuduk Desa Karang Tengah

2. Telaga Sewiwi
Telaga ini bukan merupakan bekas kawah melainkan pemunculan air tanah dari bukit bukit sekitarnya ditambah air hujan, sehingga terjadilah telaga. Sekarang telaga ini berkurang airnya.

3.Telaga Balekambang
Terletak di Kompleks Candi Pendowo, untuk menghindari bahaya banjir yang dapat merusak candi candi, penduduk membuat saluran pembuangan air kesungai Dolok. Saluran tersebut diberi nama Gangsiran Aswatama.

4. Telaga Warna dan Telaga Pengilon
Kedua telaga ini dulu merupakan satu telaga saja, karena terbendungnya Sungai Tulis oleh lava, maka telaga tersebut terpisahkan menjadi dua sampai sekarang.Telaga ini juga telaga yang paling ramai dikunjungi karena letaknya yang strategis.

5. Telaga Dringo
Nama Dringo didapat dari tumbuhnya dringo di sekeliling telaga tanpa ditanam orang. Telaga itu juga merupakan bekas kawah yang meletus pada tahun 1786.Terletak di desa Pekasiran, dan langsung berbatasan dengan desa wonopriyo kecamatan Blado kabupaten Batang, sejalur dengan kawah candradimuka.

6. Telaga Cebong
Telaga ini merupakan cekungan dikelilingi oleh perbukitan.
Air tanah bukit bukit itumengisi cekungan tersebut.
Air telaga digunakan untuk keperluan sehari hari oleh penduduk Sembungan.

7. Telaga Menjer
Merupakan telaga alam terluas di Kabupaten Wonosobo.
Berada di ketinggian 1300 meter diatas permukaan laut, dengan luas 70 Ha dan kedalaman 45 meter.
Telaga Menjer terletak didesa Maron Kecamatan Garung Kabupaten Wonosobo 12 km sebelah utara kota Wonosobo.

Kawah


1. Kawah Sibanteng
Sibanteng terletak di Desa Dieng Kulon. Kawah ini pernah meletus freatik dua pada bulan Januari 2009, menyebabkan kawasan wisata Dieng harus ditutup beberapa hari untuk mengantisipasi terjadinya bencana keracunan gas.
Letusan lumpurnya terdengar hingga 2km, merusak hutan milik Perhutani di sekitarnya, dan menyebabkan longsor yang membendung Kali Putih, anak Sungai Serayu. Sebelumnya Kawah Sibanteng meletus pada bulan Juli 2003.

2. Kawah Sikidang
Kawah Sikidang adalah kawah di DTD yang paling populer dikunjungi wisatawan karena paling mudah dicapai.
Kawah ini terkenal karena lubang keluarnya gas selalu berpindah-pindah di dalam suatu kawasan luas. Karena seringnya berpindah-pindah seperti rusa/ kidang, maka orang2 sekitar menyebutnya kawah sikidang (anak Kijang) .

3. Kawah Pagerkandang
Bila dilihat morfologinya dapat disimpulkan sebagai bekas kawah gunung berapi yang berbentuk kerucut.
Tubuh gunung telah runtuh akibat letusan dan punggung di sebelah utara sampai barat laut menjadi terbuka dan keluarlah bahan letusan.
Kegiatan vulkanik

4. Kawah Sileri
Kawah Sileri adalah kawah yang paling aktif dan pernah meletus beberapa kali (catatan yang ada 1944, 1964, 1984, dan Juli 2003).
Pada aktivitas freatik terakhir (26 September 2009) muncul tiga katup kawah yang baru disertai dengan pancaran material setinggi 200 meter.
juga merupakan cekungan yang terisi oleh bahan, letusan dari Pagerkandang (tahun 1944). Dari morfologinya terlihat bahwa kawah ini merupakan lubang peletusan pindahan dari Kawah Pagerkandang. Kawah Sileri merupakan kawah terluas. Air kawahnya bergolak, mendidih persis seperti bekas cucian beras yang dalam bahasa Jawa disebut Leri, sehingga dinamakan Sileri

5. Kawah Sinila
Kawah Sinila terletak di Pekasiran. Kawah Sinila pernah meletus pada pagi hari tahun 1979, tepatnya 20 Februari 1979. Gempa yang ditimbulkan membuat warga berlarian ke luar rumah, namun kemudian terperangkap gas yang keluar dari Kawah Timbang akibat terpicu letusan Sinila.
Sejumlah warga (149 jiwa) dan ternak tewas keracunan gas karbondioksida yang terlepas dan menyebar ke wilayah pemukiman.


6. Kawah Candradimuka
Kawah ini bukan merupakan kawah gunung berapi, melainkan pemunculan solfatar dari rekahan tanah. Terdapat dua lubang pengeluaran solfatar yang masih aktif, salah satunya mengeluarkan solfatar terus menerus sedangkan yang lain secara berkala.
Tempat ini dipakai untuk Upacara Ritual Ruwatan 1 Suro.
Terletak di desa Pekasiran Batur Banjarnegara.



Objek wisata lainnya



Museum Dieng Kailasa
Menyimpan artefak dan memberikan informasi tentang alam (geologi, flora-fauna), masyarakat Dieng (keseharian, pertanian, kepercayaan, kesenian)
serta warisan arkeologi dari Dieng.
Memiliki teater untuk melihat film (saat ini tentang arkeologi Dieng), panggung terbuka di atas atap museum, serta restoran.

Dieng Plateau Theater (DPT)
Teater untuk melihat film tentang kegunungapian di Dieng.
terletak di bukit sebelah barat telaga warna,
di puncak bukitnya bisa melihat pemandangan telaga warna dan pengilon.


Air Terjun

Air terjun Sikarim
yang merupakan terusan dari air telaga cebong.
terletak di tengah tengah antara desa sembungan dan desa mlandi garung.
perjalanan yang menarik jika kita berangkat dari desa sembungan,
karena berjalan dengan awan yg berada dibawah kita.

Curug Sirawe
curug yg sejalur dengan air panas bitingan, berada di tengah tengah dieng - pekasiran.

Puncak-puncak

Dibagian Utara :
• G. Petarangan (2135 m)
• G. Pangamun amun (2173 m)
• G. Gajah mungkur (2241 m)
• G. Prau (2566 m)
• Pager pandang/Sipandu (2241 m)
• G. Abang/Sawangan (2239 m)
• G. Jimat (2213 m)

Di bagian Timur :
• G. Patak Banteng (2578 m)
• G. Igir Matamanuk (2205 m)
• G. Igir Banteng (2198 m)
• G. Watu Sumbul (2154 m)
• G. Paku Wojo (2395 m)

Di bagian Selatan :
• G. Seroja (2275 m)
• G. Sidede (2231 m)
• G. Bisma (2365 m)
• G. Sikunir (2.263 m)
• G. Kendil
• G. Prambanan

Di bagian Barat
• G. Pangonan (2308 m)
• G. Nagasari (2365 m)

Gua
Gua Semar, Gua Jaran, Gua Sumur.
Terletak di antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon,
sering digunakan sebagai tempat olah spiritual.

Sumur Jalatunda
Sumur yang bukan buatan manusia ini terletak di desa Pekasiran.
Merupakan kepundan gunung berapi yang meletus dan terisi air menjadi sumur
dengan kedalaman 100 m dan mempunyai garis tengah kurang lebih 90 meter.
Konon Sumur Jalatunda merupakan salah satu pintu gaib menuju penguasa Laut Selatan.

Tuk Bima Lukar
Mata air Sungai Serayu, sering disebut dengan Tuk Bima Lukar (Tuk = mata air).
Sebuah mata air yang berasal dari gunung Prau 2566 m dpl yang dianggap sebagai mata air suci bagi umat Hindu, mata air ini juga merupakan hulu sungai Serayu yang bermuara di Samudera Indonesia. Dari sumber mata air di kaki gunung Prau tersebut aliran air mengarah pada tempat yang disebut Bima Lukar. Ditempat tersebut akan ditemui bangunan kuno dengan lambang Lingga (Kelamin laki-laki) dan Yoni (kelamin wanita). Lingga dengan lambang kepala gajah dengan lubang di tengah sebagai tempat air mengalir, di kanan-kiri terdapat batu bulat layaknya 2 testis dan di bagian bawah terdapat batu datar persegi dengan bagian tengahberlubang untuk menampung pancaran air dari Lingga.
Adapula gambaran lain mengenai Bima Lukar yang dikisahkan melalui legenda atau cerita rakyat yang artinya Telanjang. Ringkas cerita bahwa Bima Lukar adalah tempat dimana Pandawa (diwakilkan oleh Bima) dan Kurawa berlomba membuat sungai yang akhirnya dimenangkan oleh Bima. Karena sebelum memulai menggali Bima mendapat wangsit dari dewa supaya menggali tanpa busana/lukar dan dengan alat vitalnya untuk membuat lubang serta mengaliri sungai dengan air kencingnya. Usai membuat sungai tersebut Bima melihat seorang gadis sedang mandi di sungai yang dibuat oleh Bima seketika itu Bima berucap “Sira Ayu” (Kamu Cantik) maka nama sungai tersebut menjadi SERAYU. Sungai ini merupakan sungai dengan aliran terpanjang di daerah Jawa Tengah. Sedangkan sungai yang di buat oleh kurawa bernama Klawing yang saat ini berada di daerah Purbalingga Jawa Tengah. Menurut legenda sampai saat ini barang siapa yang memcuci muka di air Bima Lukar akan menjadi : awet muda, enteng jodoh, tambah cantik karena dibasuh dengan air kencing Bima yang Segar.

Watu Kelir
Situs berupa tembok batu yang menempel pada bukit tepat di atas Tuk Bima Lukar. Pada situs Watu Kelir ini juga terdapat tangga batu yang menghubungkan bagian bawah dengan bagian atas bukit. Situs ini dulunya diperkirakan berfungsi sebagai jalan masuk ke kelompok candi. Tangga berudak yang terbuat dari batu lebih memudahkan perjalanan ke bagian atas bukit.

Gangsiran Aswatama
Saluran air kuno yang terletak di Desa Pakasiran dan Telaga Balekambang yang diduga fungsinya dulu untuk mengeringkan air danau yang menggenangi dataran tinggi Dieng.

Gardu Pandang Tieng
Dengan ketinggian 1800 m diatas permukaan laut, dari atas gardu pandang dapat menikmati pemandangan yang sangat indah, dan dipagi hari dapat pula melihat matahari terbit dengan cahaya keemasan atau dengan istilah “Golden Sun Rise” di pagi hari. Kalau dari arah wonosobo pasti melewati gardu pandang ini.

Situs Ondho Budho
Berupa bangunan tangga batu kuno yang terletak diantara desa Siterus dan desa Sembungan. Konon tangga ini digunakan sebagai jalan pintas dari dieng menuju desa Sembungan. Sekarang komplek ini dikelilingi pohon cemara , pinus dan beberapa areal pertanian warga.
Last edited by garayy; 09-07-2011 at 12:03 AM..



Makanan & Minuman Khas Dieng

Dieng memiliki makanan dan minuman khas yang tidak dijumpai di wilayah lain.
Bisa disebut wisata kuliner khas Dieng.

1. Opak
Opak dibuat dari singkong rebus yang ditumbuk, diberi garam dan daun kucai, dibentuk tipis-tipis, dijemur lalu digoreng.
Namun tidak semua opak diberi daun kucai. Opak adalah kerupuk khas Wonosobo.
Pusat produksinya ada di desa Jolontoro kecamatan Sapuran.
Di pasaran dijual matang maupun mentah. Jika anda menggoreng sendiri, jangan sampai gosong. Sebab dengan minyak yang cukup panas, opak mentah kering akan matang hanya dalam waktu kira-kira 7 detik.
Sekali goreng, kira kira satu genggam. Opak cocok untuk hidangan di rumah,
lebih enak sambil minum teh. Ada yang menjual per kilogram, ini opak yang diurai. Ada juga opak yang dirangkai dengan tali bambu. Harganya pun berbeda-beda. Yang bagus ada yang Rp. 7.000,- per/kg. Satu kilogram opak mentah jika digoreng semua, bisa mengembang menjadi dua atau tiga toples besar.

2. Mie Ongklok
Dari namanya bisa ditebak. Ini makanan dari mie. Namun mie yang satu ini sangat khas dan asli Wonosobo. Cara penyajiannya mirip dengan mie ayam.
Bedanya, kalau mie ayam aromanya adalah ayam, sedang mie ongklok aromanya adalah udang kering/ebi. Mie ongklok dibuat dari dari mie, kol/kubis, cabe, daun kucai dan kuah bumbu kental pedas. Ada juga yang ditambah tahu bacem atau tempe kemul. Disajikan panas-panas.
Sekarang ini, mie ongklok banyak ditemani dengan sate.
Sebenarnya, itu makanan yang berbeda. Artinya, anda boleh saja membeli mie ongklok tanpa sate. Sebab memang aneh, mie ongklok sebagai hidangan utama harganya lebih murah dibanding pelengkapnya, yaitu sate. Semangkok mie ongklok kira-kira harganya Rp. 3.500,- atau Rp. 4.000,- . Sedangkan satenya, satu porsi jelas lebih dari Rp. 3.500,-. Bagi yang tidak suka sate, biasanya membeli beberapa porsi mie ongklok dan satenya hanya satu atau dua porsi, atau tidak usah pakai sate sama sekali. Penjual yang baik biasanya bertanya, mau dengan sate apa tidak. Pertama kali makan mie ongklok orang biasanya masih heran. Sebab makanan ini kuahnya seperti lem kental. Namun kali yang berikutnya biasanya suka.
Penjual mie ongklok ada yang mangkal atau permanen dan ada pula yang didorong. Seperti penjual mie ayam. Makanan ini biasanya siap dijual kira-kira mulai jam 09.00 sampai malam.
Jadi kalau anda mencari mie ongklok dibawah jam 09.00, biasanya masih jarang atau belum siap. Sebenarnya banyak yang menjual mie ongklok. Namun ada diantaranya yang sudah terkenal. Salah satunya adalah Pak Muhadi di Jl. A Yani, sebelah utara terminal lama. Di Kauman, Longkrang dan seputar Rita Pasaraya juga ada. Kemudian, untuk yang dorongan, banyak dijumpai di kampung atau perumahan di siang hari menjelang sore.

3. Tempe Kemul
Tempe kemul adalah tempe yang diselimuti atau 'dikemuli' dengan tepung yang diberi bumbu dan daun kucai.
Salah satu bumbunya adalah kunyit sehingga tempe kemul ini warnanya kuning, belang-belang hijau karena ada daun kucainya.
Tempe kemul ini spesifik Wonosobo, tidak ada di daerah lain.
Makanan ini sangat populer di Wonosobo sehingga sering djadikan snack pada saat ada rapat, gotong royong, kumpul-kumpul ataupun makanan sehari-hari di rumah.
Jarang sekali orang bosan dengan makanan yang satu ini.
Maklum, rasanya enak dan gurih. Apalagi dimakan dengan cabe rawit pedas.

4. Carica
Carica (dibaca: Karika) adalah pepaya khas Dieng. Salah satu tanaman endemik dieng.
Hanya tumbuh di daerah dingin. Carica ini mirip dengan buah pepaya (Carica Papaya)
Carica ini diolah dan dijadikan manisan carica.

5. Keripik Jamur
Sesuai dengan namanya, keripik jamur adalah jamur yang dibuat menjadi keripik.
Di Wonosobo, sejak dulu budidaya jamur sudah tidak asing lagi.
Selain sebagai bahan makanan basah, kini masyarakat Wonosobo sudah lebih inovatif dengan mengolah jamur menjadi keripik.

6. Kacang Dieng
Sesuai dengan namanya, kacang ini hanya ada di daerah Dieng dan sekitarnya.
Rasanya gurih, cocok untuk dimakan di perjalanan atau untuk oleh-oleh.
Ada yang menamai kacang ini dengan nama kacang babi.
Nama yang aneh, padahal tidak ada sangkut pautnya dengan babi.

7. Purwaceng
Purwaceng (Pimpinella Fraucan) adalah tanaman 'ginseng' ala Dieng.
Disamping sebagai obat tradisional, tanaman ini dijadikan minuman seperti kopi dan dipercaya dapat menambah vitalitas.

8. Teh
Sebenarnya di tiap daerah ada teh. Namun teh dari Wonosobo rasanya lain-dari yang lain. Terutama teh hitam produksi Tambi. Teh ini diekport ke manca negara. Namun sebagian di jual di pasaran lokal.
Pusat penjualannya adalah di koperasi PT Tambi Jl. Tumenggung Jogonegoro, Supermarket, di kios utara Pasar Induk atau di kios oleh-oleh,
seperti di Kertek. Ada kemasan dus dan ada kemasan plastik,
ukurannya bermacam-macam.

Apabila kamu dari jakarta / JABODETABEK ingin berkunjung ke dieng,

Trayek Jabotabek Wonosobo dilayani oleh banyak armada yang terdiri dari berbagai perusahaan oto bis.
Anda bisa mendapatkan bis tersebut di terminal:
Pulo Gadung, Kp Rambutan, Bekasi, Lebak Bulus, Cimone, Merak dan Bogor.
Dengan jarak 520 km, dari sekitar wilayah Jakarta,
bis biasanya berangkat sekitar pukul 17 wib dan sampai di Wonosobo menjelang fajar.

Jalur Wonosobo
Merupakan jalur favorit untuk menuju ke Dieng. Jika dibandingkan dengan jalur dari banjarnegara, jalur dari wonosobo relatif lebih pendek dan mudah untuk dijangkau serta jalan yang tidak terlalu berkelok. Dengan kondisi alam yang sedemikian rupa, satu-satunya jenis angkutan untuk menuju Wonosobo hanyalah angkutan darat. Dahulu pernah ada kereta api jurusan Purwokerto, sekarang hanya tinggal rel-nya.
Meskipun demikian, transportasi ke dan dari Wonosobo relatif ramai.
Transporatsi dari luar kota dapat anda pilih, bis atau jenis travel.
Namun banyak juga yang mencarter taxi dari Semarang atau Yogyakarta.


Dari Yogyakarta
Tidak ada trayek langsung dari Yogyakarta ke Wonosobo.
Namun karena jalur Yogyakarta - Magelang - Semarang sangat ramai,
dengan sendirinya dari Yogyakarta ke Wonosobo menjadi sangat mudah.
Dari terminal Umbulharjo, atau dari terminal Jombor,
naik bis jurusan Magelang dan turun di terminal antar kota Magelang, baru ke Wonosobo.
Total jarak sekitar 120 km dan waktu tempuh kira-kira 3.5 jam. Jalurnya adalah :
(Yogyakarta-Sleman-Tempel) - (Secang-Magelang) - (Temanggung-Parakan) (Kertek-Wonosobo)

Selanjutnya ikuti jalur dari Magelang.
Dari Yogyakarta ke Wonosobo, disamping lewat Magelang,
anda juga dapat lewat jalur Purworejo. Dari Terminal Umbulharjo atau Nggamping,
naik bis jurusan Purworejo dan baru melanjutkan ke Wonosobo.
Total jarak sekitar 120 km dengan waktu tempuh sekitar 3.5 jam. Rutenya adalah :
(Yogyakarta-Sentolo-Wates) - (Purworejo). Selanjutnya ikuti jalur dari Purworejo


Dari Cilacap
ada 2 kemungkinan jalur, via Banjarnegara atau via Wonosobo.

kalo pake angkutan umum via Banjarnegara :
Cilacap -> Purwokerto = kurang paham angkutanya
Purwokerto -> Banjarnegara = bisa menggunakan mikrobus jurusan banjar atau bus tanggung jurusan Wonosobo, nanti turun di Terminal Banjarnegara.
Banjarnegara -> Karangkobar = dari terminal banjar naik mikrobus jurusan Kalibening, turun di terminal Karangkobar.
Karangkobar -> Batur = menggunakan mobil bak terbuka jurusan batur.
Batur -> Dieng = naik mikrobus jurusan Wonosobo turun di Diengkulon.

kalo pake angkutan umum via Wonosobo :
Cilacap -> Purwokerto = kurang paham angkutanya
Purwokerto -> Wonosobo = naik bus jurusan PWT-Wonosobo, turun di terminal Wonosobo.
Wonosobo -> Dieng = pake mikrobus jurusan Wonosobo-Batur/Dieng. turun di Diengkulon.


Dieng

1 comments:

ahmad muazim abidin said...

wahhh,,, gimbal tuh, jangan2 pecinta reggae hhehe *piss

Post a Comment